
Menanggulangi Diri
Penghambat terbesar dalam melayani Allah adalah diri sendiri. Pengaliran Roh Allah di dalam pelayanan kita bergantung kepada apakah kita sudah diremukkan/menerima penanggulangan hakiki Allah atas diri kita.
Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku."
Petrus mengalami dirinya terekspos. Apakah diri itu? Diri inilah batu sandungan bagi Tuhan. Diri ini harus disangkal (Mat. 16:24).
Apa itu pikiran, diri, dan hayat jiwa (nyawa)?
Hayat jiwa diwujudkan oleh diri pribadinya (manusia lahiriahnya), dan diekspresikan melalui pikirannya (opininya). Ini adalah manifestasi Iblis. Tanpa mengikut Tuhan, berusaha menyangkal diri akan jatuh pada praktik pertapaan. Diri adalah hayat jiwa yang ditekankan pada bagian pikirannya, opininya. Meskipun Tuhan Yesus adalah Allah itu sendiri, tapi Dia bersaksi bahwa Dia tidak dapat berbuat apapun dari diri-Nya sendiri (Yoh. 5:30) dan Dia bahkan tidak menuruti kehendak-Nya sendiri. (Kehendak adalah tekad). Seringkali kehendak Allah kalah dengan kehendak kita, tekad kita keras.
Ayub juga mengalami dirinya terekspos. Pasal 2 sampai 37 dari kitab Ayub mengungkapkan opini-opini manusia. Mengapa kita beropini? Karena kita mungkin merasa kita tahu segalanya atau merasa diri kita ini adalah seseorang. Tapi Allah menampakkan kepadanya bahwa Ayub bukanlah apa-apa dan bahwa Allah tidak terbatasi, tidak terduga, tidak tertelusuri oleh akal manusia. Ayub berada pada alam yang salah, yaitu membangun diri sendiri dengan kesempurnaannya tanpa Allah. Yang benar adalah mengejar Allah sendiri, mengekspresikan Allah sendiri.
Allah tidak mungkin membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal. 6:7), karena apa yang ditabur orang akan dituainya. Jangan putus asa, menabur dalam roh, tidak dalam daging. Jangan jemu-jemu berbuat yang benar. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Kamu tidak akan bisa mengelak dari konsekuensinya.
Sasaran penanggulangan salib (7 hal)
- Manusia lama ➡️ manusia ciptaan yang telah jatuh.
- Aku ➡️ sebutan manusia lama terhadap dirinya sendiri. Inilah ego.
- Hayat jiwa ➡️ hayat dari manusia lama.
- Daging ➡️ diperhidupkannya manusia lama.
- Temperamen ➡️ watak alamiah, bagian yang buruk.
- Diri ➡️ hayat jiwa yang dititikberatkan pada pikiran (opini).
- Alamiah ➡️ kemampuan/bakat/cara manusia lama, bagian yang baik.
Gabungan ketujuh hal tersebut: Seorang manusia ciptaan yang jatuh bernama manusia lama, menyebut dirinya sendiri "aku". Hayat di dalam dirinya adalah hayat jiwa, yang ketika diperhidupkan adalah daging. Dalam daging ini ada bagian yang buruk, mudah tersinggung dan marah-marah yang disebut temperamen. Dalam daging juga ada bagian yang baik, opini dan ide yang disebut diri, serta kemampuan dan bakat yang disebut alamiah. Semua ini adalah sasaran penanggulangan salib.
Dalam perencanaan, pikiran memimpin. Dalam pelaksanaan, kehendak memimpin. Saat selesai, sukses atau gagalnya, emosi yang memimpin. Semua ini diri sendiri, tidak sedikitpun dari Allah.
Antidote nya adalah regulasi. Lakukanlah segala regulasi yang ada, supaya pikiran kita yang baik itu tidak ada kesempatan untuk mengekspresikan dirinya. Regulasi akan mematikan opini ini.